NGN9LWF9NGZ9NqV5NWp4MaRdLDcsynIkynwbzD1c

Masjid Kuno Bayan Beleq, Sejarah Agama Islam di Pulau Lombok

BLANTERLANDINGv101
1348541042180997209

Masjid Kuno Bayan Beleq, Sejarah Agama Islam di Pulau Lombok

Sabtu, 23 Oktober 2021

Kabupaten Lombok Utara (KLU) yang dimekarkan beberapa tahun lalu, ternyata bukan saja kaya dari sisi budaya dan pariwisata, namun juga memiliki situs sejarah yang masih berdiri tegak hingga sekarang. Situs yang saya maksud adalah Masjid Kuno Bayan Beleq, Desa Bayan Kecamatan Bayan, sebagai saksi bisu masuknya agama Islam di Pulau Lombok.

Gambar masjid kuno bayan beleq

SEJARAH

Masjid Kuno Bayan Beleq merupakan masjid yang dibangun pada masa-masa awal berkembangnya agama Islam di Pulau Lombok. Masjid ini dibangun di Desa Bayan yang kini termasuk bagian dari Kabupaten Lombok Barat sekitar abad ke-16. 

Pada tahun 1640, Sunan Pengging, pengikut Sunan Kalijaga, datang ke Lombok, dan menikah dengan putri dari Kerajaan Parwa. Hal tersebut membuat kecewa Raja Gowa dan akhirnya menduduki Lombok. Sunan Pengging yang dikenal juga dengan sebutan Pangeran Mangkubumi melarikan diri ke Bayan dan membuat daerah Bayan menjadi pusat kekuatan aliran Islam yang disebut Islam Waktu Telu. 

Masjid ini dibangun oleh seorang penghulu bernama Titi Mas yang juga merupakan orang pertama di Desa Bayan yang memeluk agama Islam.

Nama Beleq mempunyai arti “makam besar”. Hal ini sesuai dengan kondisi di sekitar masjid yang banyak terdapat makam. Makam-makan tersebut merupakan makam dari Plawangan, Karang Salah, Anyar, Reak, Titi Mas Penghulu, Sesait, tokoh-tokoh agama Islam lain, dan orang-orang yang ikut membangun dan mengurus masjid sejak awal pembangunannya.

DESKRIPSI

Masjid Kuno Bayan Beleq dibangun di atas sebuah bukit dengan ketinggian ± 5 m dari permukaan tanah dan pintu masuk terletak di sebelah timur laut. Konstruksi bangunan Masjid Kuno Bayan Beleq terbuat dari bahan kayu dan bambu. 

Masjid ini mempunyai atap dua tingkat, berbentuk limasan (meru) dan memiliki mahkota pada bagian puncaknya.
Secara umum bangunan Masjid Kuno Bayan Beleq terdiri dari tiga bagian, yaitu: pondasi, tubuh, dan atap.

a. Atap
Masjid ini mempunyai atap dua tingkat, berbentuk limasan dan memiliki mahkota pada bagian puncaknya. Bagian atapnya tersusun rapi terbuat dari bilah bambu. Hanya ada satu tiang saja, bukan berbentuk bulan sabit dan bintang seperti masjid pada umumnya. Atap masjid bertingkat dua berbentuk limasan terbuat dari bahan bambu yang dianyam. Atap tingkat pertama dibuat menjurai. Bidang permukaan atap keempat sisinya miring. Bila diperhatikan penampangnya menyerupai bentuk segitiga sama sisi. Bagian atap kedua terdapat sebuah tiang yang disebut tunjang langit yang terbuat dari kayu dan tingginya 1,1 meter

b. Badan
Tubuh masjid ditopang oleh empat tiang utama yang terbuat dari kayu nangka berbentuk bulat dengan diameter 0,23 meter dan tinggi 4,6 meter. Keempat tiang utama ini berdiri di permukaan umpak dari batu alam (monolit). Di samping tiang-tiang utama, masjid ini juga mempunyai tiang-tiang keliling atau tiang mider yang berjumlah 28 tiang. Di dalam ruang masjid bagian tengah terdapat sebuah bedug yang digantung dengan tali rotan. Di sebelah kanan terdapat sebuah mimbar khotbah yang sederhana. Pada bagian atas mimbar terdapat hiasan naga yang di bagian badannya dihiasi tiga buah bintang bersudut 12, 8, dan 7. Angka ‘12’ melambangkan bulan, angka ‘8’ melambangkan dari tahun alip, dan ‘7’ melambangkan hari. Selain itu, juga terdapat hiasan pohon, ayam, dan telur serta menjangan.

c. Pondasi
Pondasi masjid terbuat dari batu alam atau monolityang disusun rapi tanpa menggunakan spesi. Pondasi berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 8,9 m x 8,9 m.
Disekitar Masjid Kuno Bayan Beleq ini terdapat enam cungkup makam yang terbuat dari bambu yang berisi makam para tokoh ulama, yaitu: makam Plawangan, makam Karang Salah, Makam Anyar, makam Reak, Makam Titi Mas Penghulu, dan makam Sesait.
BLANTERLANDINGv101
  1. Masjid bayan beleq ini jarang dikunjungi wisatawan karena lokasinya yang cukup jauh dari kota Mataram.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau menurut saya karena kurang dipromosikan oleh pelaku pariwisata. Padaang yang datang ke air terjun yang bisa dikatakan tidak jauh dari lokasi tersebut.

      Hapus

Formulir Kontak Whatsapp×
Data Anda
Data Lainnya
Kirim Sekarang